18.6 C
Garut
Senin, Juli 22, 2024

Ciamik, Drama Hutbah Munggaran di Pajajaran Digelar di Padepokan Sobarnas Martawijaya

Jangan Lewatkan

WARTASATU.CO , GARUT – Penanganan dampak ekonomi dan penyediaan jaring pengaman sosial yang menjadi prioritas pemerintah selain penanganan kesehatan, diharapkan dapat menyentuh bidang kebudayaan.

Terutama, untuk penangulangan perekonomian komunitas/pelaku budaya kelas menengah kebawah yang saat ini dapat dikategorikan sebagai kelompok masyarakat terdampak.

Dalam kondisi Pandemi seperti ini, Komunitas Budaya Posstheatron Garut (KBPG), yang pada tahun 2018 menjadi sub sektor unggulan dari tim uji petik PMK3I (BEKRAF) dan menjadi bagian dari peta ekosistem Ekraf Nasional, menggelar pertunjukan drama dengan judul Hutbah Munggaran di Pajajaran,

Drama Hutbah Munggaran di Pajajaran ini di Sutradarai Ari KPIN, bertempat di padepokan Sobarnas Martawijaya, kampung Tegalsari, desa Langensari, Kecamatan Tarogong, Sabtu (24/10/2020).

Komunitas Budaya Posstheatron Garut (KBPG) bersama Himpunan Sastrawan Dramawan Garut (HISDRAGA) dengan dukungan Pemerintah daerah melalui Dinas Kebudayaan Pariwisata Kebudayaan Kabupaten Garut, dan didukung juga Pemerintah dengan program Fasilatasi Bidang Kebudayaan (FBK) Tahap I 2020 Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kubudayaan RI.

Hutbah Munggaran di Pajajaran diambil dari karya Yus Rusyana, dengan konsep menggabungkan sejarah, dongeng dan babad tentang Kian Santang yang menyebarkan agama Islam di Pajajaran dalam bahasa Sunda klasik, demikian dikatakan Bah Dedi Fachroe salah seorang panitia pertunjukan.

“Penting untuk diketahui masyarakat luas ada sudut pandang lain tentang kerajaan Pajajaran dengan Islam, sesuai pengalaman panjang pengarang dalam meriset cerita tutur di Jawa Barat,” ungkapnya.

Di lain pihak drama ini menyajikan gaya tutur bahasa Sunda klasik sebagai kendaraan komunikasinya. Mungkin akan ada jarak komunikasi antara pertunjukan dengan apresiator.

Untuk itu, pihak penyelenggara membuat strategi untuk mengolah visual, video mapping dan keterampilan, gerak tari, pencak silat dalam pertunjukan ini, sebagai jembatan komunikasi antara pertunjukan dan apresiatornya.

“Pagelaran ini diharapkan dapat sesuai dengan target pemerintah, agar nilai-nilai kesenian dan kebudayaan dapat menjadi soft diplomacy dan soft power. Selain itu, agar terjadi transfer pengetahuan antara pelaku kesenian dan kebudayaan dengan publik luas, sebagaimana yang kami usulkan yaitu pertunjukan Kreatif Inovatif,” beber Bah Fachroe.

Lanjut dikatakannya, adapun tujuan dari pertunjukan ini yaitu, selain membuat karya Inovatif bertemakan budaya, dengan hasil akhir pertunjukan dan sinema teater dalam bentuk film. Juga memberikan alternatif wacana terkait Kian Santang dan Raja Pajajaran, serta melestarikan budaya dan Bahasa Sunda, dan menciptakan pertunjukan yang berkarakter.

Sementara itu, manfaat yang diharapkan dari kegiatan FBK yang diusulkan, yaitu terciptanya pertunjukan inovatif berbasis budaya, yang kuat secara nilai estetika dan pariwisata. Selain itu, memiliki Video dokumentasi pertunjukan bernilai sinematik yang baik.

Hal penting yang diharapkan, yakni bangkitnya gairah pelaku seni dan budaya, dalam menggali kearifan lokal serta bangkitnya semangat pelaku seni, untuk melakukan ekplorasi dan eksperimentasi karya berbasis riset budaya. Dengan bidang kebudayaan yang lebih mengedepankan kreativitas secara kolektif.

Meski di masa pandemi Covid-19 aktifitas pelakunya menjadi sangat terbatas. Namun kami tetap mencoba berkreasi dengan kemampuan/ keahlian yang kami miliki. Pagelaran ini didukung oleh kurang lebih 60 pemain. Baik aktor, pemusik, tari dan silat.

Meski dilaksanakan pada pandemi Covid-19 tentu saja kami menerapkan protokol kesehatan dengan menyediakan tempat cuci tangan, hand sanitizer dan penonton harus menggunakan masker dengan kursi yang berjarak dalam mengapresiasinya, ucapnya.

Pertunjukan teater kolosal inipun berakhir dengan mendapatkan apresiasi dari masyarakat penonton, selain dari tamu undangan yang hadir.

Nampak hadir dalam pagelaran tersebut, yakni Camat Tarogong Kaler yang mewakili wakil Bupati Garut, Danramil Tarogong, Polsek Tarogong Kaler, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan yang diwakili sekretaris dinas dan Kabid Kebudayaan.

Diketahui, Komunitas Budaya Posstheatron Garut (KBPG) bersama Himpunan Sastrawan Dramawan Garut (HISDRAGA) dengan dukungan Pemerintah daerah melalui Dinas Kebudayaan Pariwisata Kebudayaan Kabupaten Garut.

Pagelaran ini juga didukung Pemerintah dengan program Fasilatasi Bidang Kebudayaan (FBK) Tahap I 2020 Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kubudayaan RI. (Ra)

- Advertisement -

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

Warta Terkini