23.1 C
Garut
Rabu, April 24, 2024

Legislator Jabar Berikan Bantuan Pada Ratusan Pemulung di Purwakarta

Jangan Lewatkan

WARTASATU.CO, PURWAKARTA – Penyebaran Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 dari hari ke hari kian mengkhawatirkan. Ribuan warga negara Indonesia sudah positif terpapar Covid-19 dan ratusan orang meninggal dunia.

Guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19, pemerintah pun mengeluarkan beragam aturan, seperti wajib mencuci tangan menggunakan sabun, sosial distancing, mewajibkan warganya menggunakan masker dan bahkan untuk beberapa daerah pemerintah pusat menyetujui permohonan diberlakukannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Tujuan pemerintah tiada lain untuk menyelamatkan warganya dari wabah Covid-19 yang terbukti mampu membunuh setiap penderitanya dengan waktu cukup singkat. Walaupun sudah banyak penderita Covid-19 yang bisa sembuh, namun virus ini sepertinya terus berkembang dan menjalar ke belahan dunia.

Namun apalah daya, bagi sebagian masyarakat kecil peraturan tersebut dianggap serba salah. Apabila aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah ditaati langsung, maka bisa menjadi buah simalakama.

“Beberapa aturan mudah saya lakukan, seperti menjaga pola hidup sehat. Tetapi, kalau saya tidak keluar rumah untuk bekerja, bagaimana saya bisa menghidupi anak dan istri saya. Akan menjadi buah simalakama. Saya bisa selamat dari virus, tetapi anak dan istri saya bisa kelaparan,” ujar salah satu Driver Gojek di Kota Bandung, beberapa waktu lalu saat berbincang dengan media ini.

Menurutnya, sejak diberlakukan aturan agar ASN untuk bekerja di rumah dan anak-anak sekolah diliburkan saja penghasilannya sudah turun sampai 75 persen. Sehingga ia tidak bisa membayangkan apabila harus berdiam diri di rumah.

“Serba salah kang. Bukannya menantang maut, tetapi saya juga punya kewajiban untuk menghidupi keluarga. Untuk itu saya berharap kepada pemerintah untuk mencari solusi bagi kami yang mengandalkan pendapat sehari-hari,” ujarnya.

Sepertinya, bukan hanya dirver gojek yang serba salah menentukan sikap di tengah wabah Corona. Di Indonesia, banyak profesi yang mengandalkan pendapatan harian. Apabila mereka tidak bekerja, maka tidak ada penghasilan yang bisa dibawa ke rumah untuk menghidupi keluarganya.

Bahkan di tengah wabah Covid banyak karyawan mal, toko dan pabrik yang terpaksa gigit jari karena tempat usahanya mengalami penurunan pendapatan. Nasib mereka yang harus kehilangan pekerjaannya ditengah wabah, sesuai dengan pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga. Disatu sisi mereka harus berjuang melawan Corona, disisi lain mereka malah kehilangan mata pencahariannya.

Dedi Mulyadi saat berbincang dengan salah satu warga Tegal yang ada di Purwakarta. (Ft aa)

Di Kabupaten Purwakarta, seorang politikus yang duduk di DPR RI (Dewan Perwakilan Rakyat) menemukan ratusan pemulung yang tengah berjuang mencari nafkah. Di malam hari, disaat orang lain sedang istirhat, mMereka berjalan menyusuri jalan ditengah Covid-19.

Anggota DPR RI tersebut tiada lain Dedi Mulyadi. Mantan wakil Bupati sekaligus Bupati Purwakarta dua periode. Dedi menjumpai seorang pemulung beserta anak dan istrinya yang masih berkeliaran ditengah wabah corona. Pemulung itu membawa roda untuk memuat rongsokan dan diikuti oleh istrinya sambil menggendong anak.

Pria yang akrab dengan panggilan Kang Dedi ini pun merekam video aktivitas mereka dan mengunggahnya di Facebook. Dalam video tersebut, pemulung mengaku berasal dari Rengasdengklok, Kabupaten Karawang.

Dedi Mulyadi menemui warga Cianjur di Purwakarta. (Ft: aa LOGIKANEWS.com)

Ia terpaksa berjuang mencari nafkah ditengah pendemi Corona demi memenuhi kebutuhan hidup. Akhirnya, keluarga ini disuruh pulang oleh Kang Dedi dan diminta tidak beraktivitas. Akan tetapi, Kang Dedi memberikan bantuan sembako dan mengantarkan mereka sampai ke rumahnya.

Kepada media ini, melalui sambungan Whats Appnya, Kang Dedi mengatakan, ia juga menyisir pemulung lainnya untuk diberi pengertian agar tidak berkeliaran demi memutus rantai virus Covid-19.

Ada sekitar 200 pemulung yang berhasil ia temukan. Kang Dedi berharap mereka pulang ke rumah dan beristrahat. “Saya beri bantuan, agar mereka dapat memenuhi kebutuhannya selama diam di rumah,” imbuh Ketua DPP Partai Golkar ini.

Menurut Kang Dedi, pemulung-pemulung yang tanyai berasal dari sejumlah daerah seperti Cirebon, Tegal, Cianjur, Karawang dan lainnya. Rata-rata, untuk hidup di Purwakarta mereka rela mengontrak tempat. “Ditengah pandemi ini saya meminta mereka untuk diam di rumah kontrakan, hingga wabah corona benar-benar menghilang,” pungkas Kang Dedi. (aa)

- Advertisement -

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

Warta Terkini