Warta Satu – Peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) 1926–2026 di Kabupaten Garut resmi dimulai. Momen bersejarah tersebut ditandai dengan Opening Ceremony Satu Abad NU yang dirangkaikan dengan Musyawarah Kerja Cabang (Mukercab) PCNU Kabupaten Garut, bertempat di Lapangan SOR Ciateul, Jalan Proklamasi, Kecamatan Tarogong Kidul, Senin (26/01/2026).
Acara ini dihadiri langsung oleh Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, jajaran pengurus NU, tokoh agama, pelaku UMKM, serta ribuan warga Nahdliyin. Suasana khidmat bercampur semangat kebangsaan terasa kuat sejak awal kegiatan.
Dalam sambutannya, Bupati Garut menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kiprah NU selama satu abad terakhir. Menurutnya, NU bukan hanya organisasi keagamaan, tetapi juga pilar penting dalam pembangunan bangsa, khususnya di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial kemasyarakatan.
“NU sudah membuktikan perannya selama 100 tahun. Dari pesantren, layanan kesehatan, sampai kerja-kerja sosial yang langsung menyentuh masyarakat,” ujar Abdusy Syakur Amin.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa tantangan ke depan membutuhkan langkah yang lebih progresif, terutama dalam pemberdayaan ekonomi umat.
Fokus Baru: Ekonomi Umat dan UMKM Lokal
Bupati Garut mengaku optimistis melihat semangat NU yang kini mulai serius mendorong sektor ekonomi berbasis potensi lokal. Ia secara terbuka menyatakan komitmen Pemerintah Kabupaten Garut untuk ikut terlibat aktif mendukung penguatan UMKM.
“Tadi saya senang sekali melihat ada upaya-upaya mendorong UMKM yang punya potensi lokal. Pemerintah siap membantu, terutama akses modal. Untuk modal sampai Rp10 juta, bunganya hanya 3 persen,” ungkapnya.
Kebijakan tersebut dinilai sebagai langkah konkret untuk membuka peluang usaha, terutama bagi warga Nahdliyin dan masyarakat Garut secara umum yang selama ini terkendala permodalan.
Tak berhenti di situ, Abdusy Syakur Amin juga mengungkapkan bahwa Pemkab Garut telah melakukan koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan sejumlah lembaga perbankan, termasuk Bank BJB, guna menghadirkan skema pembiayaan yang lebih ramah bagi pelaku usaha.
“Untuk yang modalnya lebih besar lagi, bisa dibantu tanpa agunan. Harapannya, warga NU khususnya dan masyarakat Garut umumnya bisa menjalankan aktivitas ekonomi yang lebih besar dan lebih bermanfaat,” jelasnya.
Langkah ini diharapkan mampu mendorong lahirnya pelaku usaha baru sekaligus memperkuat UMKM yang sudah berjalan agar naik kelas.
NU Hadir untuk Melindungi dan Melayani Umat
Sementara itu, Ketua PCNU Kabupaten Garut, KH. Atjeng Abdul Wahid, menyampaikan bahwa peringatan satu abad NU versi Masehi ini merupakan momentum tasyakur atas perjalanan panjang organisasi yang lahir dari rahim para ulama dan pesantren.
Ia menegaskan bahwa gerak langkah NU ke depan tidak akan lepas dari dua prinsip utama, yakni himayatul ummah (melindungi umat) dan khidmatul ummah (melayani umat).
“Mudah-mudahan ini menjadi bekal bagi kami, bahwa harokah Nahdlatul Ulama tidak pernah lepas dari himayatul ummah dan khidmatul ummah,” tutur KH. Atjeng.
Menurutnya, semangat tersebut harus terus diterjemahkan dalam aksi nyata yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Di tempat yang sama, Ketua Pelaksana Kegiatan, Adis Abdullah Effendi, memaparkan bahwa perhelatan Satu Abad NU di Kabupaten Garut dirancang bukan hanya sebagai seremoni, melainkan ruang konsolidasi dan pemberdayaan umat.
Ia menjelaskan, terdapat tiga agenda utama dalam rangkaian kegiatan ini, yaitu:
- Mukercab PCNU Kabupaten Garut,
- Pameran dan Bazar UMKM,
- Apel Kebangsaan yang dijadwalkan berlangsung pada 29 Januari 2026.
“Untuk bazar UMKM sendiri, ada lebih dari 200 pelaku UMKM yang terlibat. Ini menjadi bukti bahwa NU serius mendorong ekonomi berbasis umat,” jelas Adis.
Tak hanya itu, rangkaian Harlah NU juga dimeriahkan oleh 50 penampilan kreasi, yang berasal dari MWC, PRNU, lembaga, serta badan otonom NU, menampilkan seni, budaya, dan semangat kebangsaan khas Nahdlatul Ulama.
NU dan Garut Melangkah ke Abad Kedua
Rangkaian kegiatan di SOR Ciateul ini dijadwalkan berlangsung setiap hari mulai pukul 13.00 hingga 22.00 WIB. Panitia berharap, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga sarana mempererat ukhuwah, memperkuat ekonomi umat, serta meneguhkan peran NU dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Memasuki abad kedua, NU di Garut menegaskan diri bukan hanya sebagai penjaga tradisi, tetapi juga motor perubahan yang adaptif terhadap tantangan zaman, dari dakwah, sosial, hingga ekonomi kerakyatan. (***)
