Warta Satu – Suasana di Stadion Olahraga RAA Adiwijaya, Kecamatan Tarogong Kidul, berubah penuh warna pada Sabtu (30/8/2025).
Ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) dari berbagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Garut tumpah ruah mengikuti Festival Olahraga Tradisional (Oltrad) antar SKPD yang digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia.
Acara yang dibuka langsung oleh Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, itu bukan sekadar lomba olahraga biasa. Festival ini jadi ajang silaturahmi, ajang nostalgia, sekaligus momentum untuk mengingatkan para ASN agar tidak lupa pada pentingnya menjaga kesehatan dan melestarikan olahraga tradisional yang kini mulai jarang dimainkan.
ASN Harus Sehat, Bupati Ingatkan Gaya Hidup Aktif
Dalam sambutannya, Bupati Garut menyoroti kondisi kesehatan ASN yang masih banyak menghadapi masalah akibat pola hidup kurang gerak. Dari hasil pemeriksaan kesehatan gratis yang difasilitasi Pemkab, sejumlah ASN ditemukan mengalami hipertensi dan masalah metabolik.
“Kami ingin semua ASN Garut dalam keadaan sehat walafiat. Kalau ASN sehat, kerja pun lebih semangat dan pelayanan ke masyarakat jadi maksimal,” ucap Syakur dengan penuh semangat.
Ia menegaskan bahwa olahraga bukan hanya soal fisik, tapi juga membangun mental positif, rasa gembira, serta kebersamaan. “Mari rayakan HUT RI ke-80 dengan penuh kegembiraan, kebahagiaan, dan silaturahmi. Jangan sampai kesehatan kita jadi penghalang dalam mengabdi kepada rakyat,” tambahnya.
Ajang Guyub, Bukan Sekadar Kompetisi
Festival Oltrad tahun ini mengusung tema “Jalin Kebersamaan Melalui Pemasalan Olahraga Tradisional”. Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Garut, Ade Hendarsyah, menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini bukan hanya mencari pemenang, melainkan mempererat solidaritas antar SKPD.
“Acara ini kami gelar agar ASN bisa refreshing dari rutinitas kantor, sekaligus mengingat kembali olahraga tradisional yang mulai jarang dimainkan. Di balik lomba, ada pesan kebersamaan, gotong royong, dan semangat melestarikan budaya bangsa,” jelas Ade.
Menurutnya, keberadaan olahraga tradisional adalah bagian dari identitas bangsa yang tak boleh hilang ditelan modernisasi. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Bupati Garut yang selalu mendukung penuh event olahraga di tingkat daerah.
250 Peserta, 6 Cabang Olahraga Tradisional
Gelaran ini diikuti oleh 250 peserta dari 33 SKPD. Mereka bertanding di enam cabang olahraga tradisional yang penuh nostalgia sekaligus menguji kekompakan:
- Egrang – menguji keseimbangan dan ketangkasan.
- Dagongan – adu kekuatan ala tarik tambang versi bambu.
- Tarumpah Panjang – lomba jalan bersama dengan papan panjang, seru sekaligus butuh kerja sama tim.
- Balap Karung – klasik, tapi selalu bikin gelak tawa.
- Sumpitan – olahraga ketangkasan tradisional ala nusantara.
- Ketapel – melatih fokus dan kejelian sasaran.
Riuh rendah sorak-sorai peserta dan penonton membuat stadion terasa seperti arena rakyat. Tidak ada sekat antar SKPD, semua lebur jadi satu dalam semangat kebersamaan.
Lebih dari Sekadar Lomba
Bagi sebagian ASN, festival ini jadi ajang bernostalgia. “Dulu waktu kecil main balap karung sama teman kampung. Sekarang bisa ikut lagi bareng rekan kerja, rasanya seru banget,” ujar salah satu peserta sambil tertawa.
Selain itu, kegiatan ini juga punya makna mendalam: mengingatkan jasa para pahlawan yang dulu berjuang tanpa pamrih, sekaligus memperkuat sinergi antar-dinas agar semakin solid dalam melayani masyarakat Garut.
Meriah, Sehat, dan Penuh Kebersamaan
Dengan antusiasme peserta yang tinggi, Festival Oltrad 2025 bukan hanya menjadi ajang olahraga, tapi juga pesta rakyat kecil-kecilan bagi keluarga besar Pemkab Garut. Energi positif yang tercipta di lapangan diharapkan mampu menular ke kinerja ASN dalam kehidupan sehari-hari.
Seperti kata Bupati Syakur, “ASN itu motor penggerak pembangunan daerah. Kalau tubuh sehat, mental bahagia, insyaAllah Garut juga akan semakin maju.”
Festival ini pun ditutup dengan pesan bersama: jangan biarkan olahraga tradisional punah, karena di dalamnya ada identitas bangsa, nilai gotong royong, serta semangat persatuan yang tak lekang dimakan zaman. (***)