Warta Satu – Sebuah pesta pernikahan megah di Garut yang seharusnya menjadi hari penuh kebahagiaan justru berubah menjadi tragedi memilukan.
Ribuan warga yang antusias menghadiri acara pesta hajatan pernikahan Putri Karlina, anak dari Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol. Karyoto, dengan Maula Akbar, putra dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kini menyisakan luka mendalam.
Tak hanya tiga, total korban jiwa dalam insiden ini kini bertambah menjadi lima orang, termasuk seorang anggota kepolisian.
Dalam suasana yang seharusnya penuh sukacita, suara tangisan justru menggema di RSUD dr. Slamet Garut.
Deretan mobil ambulans mondar-mandir, membawa korban dari lokasi pesta yang berlangsung di salah satu gedung mewah di kawasan Garut.
Ribuan warga yang hadir mengaku trauma, bahkan beberapa di antaranya masih syok melihat kejadian yang sangat tidak manusiawi tersebut.
KH Abdul Mujib, “Belasungkawa Sedalam-dalamnya”
Tokoh ulama kharismatik Garut, KH Abdul Mujib, angkat suara. Ia menyampaikan belasungkawa yang tulus dan mendalam atas wafatnya empat anggota masyarakat serta satu anggota kepolisian dalam tragedi ini.
“Sebagai bagian dari masyarakat Garut, saya merasa sangat terpukul. Ini bukan hanya musibah, tapi tragedi kemanusiaan yang menyayat hati. Siapapun harus bertanggung jawab,” ujar KH Abdul Mujib melalui selulernya, Jumat (18/07/2025).
Ia juga mengingatkan bahwa dalam setiap kegiatan besar yang melibatkan massa, keselamatan warga harus menjadi prioritas utama, bukan kemewahan acara.
Ribuan Massa, Nasi Kotak, dan Kekacauan yang Berujung Nyawa
Kejadian bermula saat sesi pembagian nasi kotak diumumkan oleh panitia. Ribuan warga yang sudah sejak pagi menanti momen tersebut langsung memadati area distribusi.
Tak ada barikade, tak ada pengaturan antrean, dan hanya segelintir petugas pengamanan yang tampak kewalahan mengendalikan kerumunan.
Desakan demi desakan pun terjadi. Sejumlah warga jatuh. Yang lain mencoba menghindar, tapi tak sedikit yang malah ikut terinjak-injak. Dalam hitungan menit, suasana jadi kacau total.
“Saya melihat, ada ibu-ibu bawa anak sampai terjepit di tiang. Orang-orang panik, semua bergerak nggak karuan,” kata Riki (27), salah satu warga yang selamat dari kerumunan.
5 Orang Meninggal, Puluhan Terluka
Sementara di RSUD dr. Slamet Garut 2 korban jiwa telah dibawa ke ruang jenazah. Korban terdiri dari warga sipil, termasuk seorang anak kecil.
Selain itu, puluhan warga lainnya dilarikan ke rumah sakit, mayoritas karena pingsan, sesak napas, trauma, hingga luka-luka fisik akibat terinjak.
Siapa yang Bertanggung Jawab?
Pertanyaan besar pun muncul: siapa yang bertanggung jawab atas tragedi ini?
Acara pernikahan ini disebut-sebut sebagai “pesta rakyat” karena mengundang publik secara terbuka.
Tapi dengan warga yang mencapai ribuan orang, minimnya pengamanan dan buruknya manajemen kerumunan menjadi bom waktu yang akhirnya benar-benar meledak.
“Apakah hajatan elite harus selalu dibumbui dengan gimmick massa tanpa kesiapan teknis? Ini bukan sekadar kelalaian, tapi bentuk pembiaran yang fatal,” ujar seorang aktor, Abenk Marco.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari keluarga besar pengantin maupun dari pihak kepolisian dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Namun sebagai masyarakat, Abenk menuntut evaluasi menyeluruh dan transparansi investigasi agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali.
Reaksi Warganet dan Suasana Duka di Garut
Tragedi ini langsung jadi trending topic di media sosial. Warganet beramai-ramai mengungkapkan kesedihan sekaligus kekesalan mereka. Tagar #GarutBerduka, #TragediHajatanMewah, dan #PestaRakyatKorbanNyata jadi topik panas.
“Pesta termewah tahun ini justru menelan nyawa. Siapa yang mau bertanggung jawab?” cetus Abenk.
Abenk menekankan, sebuah pesta memang bisa menjadi panggung kebahagiaan. Tapi ketika keselamatan diabaikan, maka kemeriahan hanya jadi ilusi.
Tragedi pernikahan Putri Karlina dan Maula Akbar jadi tamparan keras, bahwa glamornya sebuah acara tak sebanding dengan nyawa manusia.
“Kini, Garut berduka. Dan publik menanti jawaban. Bukan dari panitia, tapi dari mereka yang punya kuasa dan tanggung jawab. Karena di balik kemewahan, ada darah dan air mata yang tak bisa dilupakan,” pungkas Abenk. (***).